Senin, 31 Desember 2018

Hafal 30 Juz, Nadya Anak Pertama Pembina Racana Almaida UIN Makassar Raih Penghargaan dari UIN Jakarta

Nadyatul Hikmah Shuhufi 

JAKARTA - Nadyatul Hikmah Shuhufi merupakan anak pertama dari Pembina Racana Alauddin dan Maipa Deapati (Almaida) Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar yaitu Muhammad Shuhufi dan Fatmawati Hilal berhasil mendapt penghargaan dalam bidang tahfidz 30 juz dari UIN Syarif Hidatullah Jakarta. Pengahrgaan tersebut diserahkan langsung oleh Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dede Rosyada di Auditorium Harun Nasution, Senin (31/12/2018). 


"Jadi tiap tahun memang di UIN Jakarta ada event ini untuk semua mahasiswa yang berprestasi non-akademik. Ada beberapa kategori seperti Lomba nasional, lomba internasional, relawan, karya, tahfidz. Kebetulan tahun ini ada 244 mahasiswa yang dapat, saya salah satunya dari bidang tahfidz," kata Nadya sapaan akrabnya.


Nadya yang merupakan mahsiswi Jurusan Dirasah Islamiyah semester 3 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengatakan bawa ia mulai menghafal Alquran 30 juz  sejak 2014 lalu ketiak mondok di salah satu pesantren di Sulawesi Selatan


"Mulai hafal Quran pas masuk Madraah Aliyah (MA) di Pondok Pesntren (Ponpes) Darud Da'wah wal Irsyad (DDI) Mangkoso tahun 2014 dan Alhamdulillah menyelesaikan hafalan 30 juz tahun 2016," ujarnya, Senin (31/12/2018)


Bagi mmahasiswi yang juga aktif sebagai anggota Pramuka UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini dalam proses menghafal bukan tanpa kendala. Pasalnya, ia berada di lingkungan ponpes yang bukan khusus penghafal dan itu membuatnya harus mengatur waktu yang baik antara belajar dengan menghafal Alquran.


"Kesulitannya karena memang saya Pondoknya bukan yang khusus menghafal saja. Jadi tetap ada belajar umum, ada penjurusan yang kebetulan saya ambil jurusan IPA, lumayan sibuk dari jurusan-jurusan lain. Ya paling dalam membagi waktu menghafal sama belajar saja kesulitannya," jelasnya.

Nadyatul Hikmah Shuhufi (Kanan) saat mendapat penghargaan

Menurut anak pertama dari dua bersaudara tersebut untuk membagi waktu antara belajar dan menghapal Aquran, biasanya ia memanfaatkan waktu sebelum subuh, setelah subuh dan sesudah shalat ashar. Selain itu dukungan orang tua dan orang-orang sekitarnya juga membuatnya terus semangat untuk menyelesaikan hafalan 30 juznya.


"Awalnya karena motivasi dari orang tua,  tidak pernah niat menyelesaikan 30 juz karena memang merasa susah di awal-awal. Tapi seiring berjalan, kebetulan saya juga sekamar di asrama dengan senior yang sudah hafal 30 juz waktu itu, jadi lebih banyak motivasi lagi. Dan tiap setoran hafalan pasti selalu dikasi motivasi dari pembina hafalanku untuk bisa nambah dan ulang terus itu hafalan," ungkapnya.


Sementara itu, untuk menjaga hafalan agar tidak hilang, gadis kelahiran Makassar 01 April 2000 ini selalu mengulang-ulangnya setiap hari minimal setengah juz. Selain itu, pesan-pesan orang tua juga ia selalu pegang.


"Satuji pesannya orang tuaku 'Murojaah. jangan lupa diulang-ulang terus hafalannya'. karena memang yang paling berat bagi penghafal Quran itu mengulang-ulangnya dan itu tugasnya penghafal, harus diulang-ulang terus dulu biasa bisa 1 juz perhari, tapi sekarang stengah juz perhari karena harus bagi waktu sama kuliah dan organisasi," 


Ia berharap dengan adanya penghargaan tersebut membuat dirinya semakin semangat untuk mengulang semua hafalannya. "Semoga kejutan di akhir tahun ini bisa membuat saya jadi makin rajin murojaah (Mengulang) hafalan, dan lebih semangat ber-resolusi lebih baik di tahun yang akan datang," harapnya.


Selain aktif kuliah dan Pramuka UIN Syarif Hidatullah Jakarta, Alumni MA Ponpes DDI Mangkoso ini juga aktif dibeberapa organisai kampus di antaran ETC (Elbariyah Tahfidz Center) untuk mengisi waktu  sambil setoran hafalan dan belajar tajwid bersama.

3 komentar:

Lantik Pengurus UKM Pramuka, Ini Pesan Rektor UIN Alauddin Makassar

Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof Musafir bersama pengurus dan anggota UKM Pramuka  GOWA  - Rektor Universitas Islam Neger...